Giat Kembangkan Technologi Antirayap
 
Bapak Prof Dr.
Ir. H. Dodi Nandika. MS, Pria kelahiran Rangkasbitung (Banten) 49 tahun silam yang dikenal sebagai ahli rayap. Dosen IPB sejak 25 tahun yang lalu menjadi peneliti rayap. Ia mengungkapkan, ada 200 jenis rayap di Indonesia dan lima persen diantaranya menjadi musuh manusia. Bangunan sekokoh apa pun bisa lapuk gara-gara rayap. Namun, ancaman itu bisa dicegah dengan antirayap. Selain merugikan, ternyata banyak jenis rayap yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Bisa diceritakan seperti apa, sih, ciri-ciri binatang rayap?

Rayap termasuk jenis serangga yang besar tubuhnya cuma sekitar 3 mm. Selain lunak, jalannya sangat lambat. Namun, rayap termasuk binatang purba karena sudah ada sejak 200 juta tahun silam, atau lebih tua dari manusia. Rayap sendiri memiliki tiga kelompok. Yaitu rayap kayu kering, rayap pohon, dan rayap tanah. Pada musim tertentu, rayap menjadi laron dan beterbangan di bawah sinar lampu secara berpasang-pasangan. Setelah melepas sayapnya, pasangan rayap itu melakukan perkawinan dan mencari lokasi untuk membuat koloni.

Bisakah diketahui berapa banyak rayap yang mendiami suatu wilayah?

Dengan teknologi penandaan (marking), dapat diketahui sebaran dan kecepatan serangan rayap pada satu wilayah. Hasil penelitian kami di daerah kampus IPB Darmaga, misalnya, untuk luas wilayah 295 meter persegi saja, populasi rayap mencapai 610 ribu. Namun, di Jakarta bisa mencapai 1,7 juta! Sedang jarak jelajah maksimal 118 meter.

Berapa banyak kayu yang dibutuhkan setiap rayap perhari?

Berat tubuh rayap sekitar 2,5 miligram. Sedangkan satu ekor rayap memerlukan makanan sekitar 0,24 miligram setiap hari. Sekarang tinggal menghitung saja, berapa kilogram kayu yang diperlukan satu koloni rayap perhari.

Kalau begitu sangat besar kerugian yang ditimbulkan?

Taksiran kami, kerugian akibat rayap pada tahun 1998 hanya untuk bangunan rumah tinggal mencapai 1,6 trilyun. Itu pun yang dihitung hanya kayu. Belum termasuk tenaga kerja dan ongkos untuk mengganti kerusakan yang ditimbulkan.

Apakah rayap hanya memakan kayu?

Memang makanan pokok rayap adalah kayu. Dari 4000 jenis kayu yang ada di
Indonesia, hanya sekitar 10 persen yang tahan terhadap rayap. Misalnya kayu ulin, merbau, sengon laut, kayu laut. Kayu jati termasuk tahan rayap, tapi tidak sebaik kayu ulin. Sayangnya, kayu-kayu yang tahan rayap ini selain langka juga mahal harganya. Itu sebabnya, yang paling menderita oleh serangan rayap adalah masyarakat menengah ke bawah.

Kenapa kayu tersebut tahan rayap?

Karena dalam kayu-kayu tersebut memiliki zat ekstraktif yang bersifat racun bagi jamur dan rayap. Sebetulnya semua kayu memiliki zat tersebut. Hanya saja, zat itu bisa habis tercuci oleh bahan pelarut umum. Misalnya, air hujan, metanol, air panas, air dingin, alkohol dan sebagainya.

Apakah kita bisa terbebas dari rayap?

Tidak. Sebaliknya, jumlah rayap justru akan semakin bertambah. Pasalnya, pertambahan jumlah penduduk akan mengakibatkan jumlah rumah meningkat. Akibatnya, semakin banyak pula hutan yang dibuka untuk pemukiman. Padahal, hutan adalah habitat asli rayap. Karena tidak ada ranting sebagai bahan makanan, maka kusen pintu, jendela, sampai perabot rumah jadi sasaran.

Kalau begitu bagaimana cara melindungi kayu rumah dari serangan rayap?

Ada dua cara. Pertama, dinamakan perlakuan prakonstruksi. Yaitu ketika menggali lubang fondasi untuk membangun rumah, seluruh lubang beserta areal calon bawah lantai tersebut disemprot dengan cairan antirayap. Kedua, disebut perlakuan pasca konstruksi. Artinya tindakan untuk rumah yang sudah diserang rayap. Dengan menggunakan bor beton, kita membuat lubang-lubang berjarak 40 - 50 cm di sekitar dinding luar dan dalam rumah. Selanjutnya, menggunakan injektor berisi cairan kimia, lubang tadi disemprot masing-masing 2 - 3 liter tiap lubang. Ibaratnya, rumah telah dilindungi anti rayap dengan selimut kimia.

Dari kedua cara tadi mana yang lebih baik?

Pengalaman menunjukkan, cara prakonstruksi memberikan hasil yang lebih baik. Cara kedua masih memberikan peluang 10 - 20 persen masuknya rayap ke dalam rumah. Mungkin saja masih ada bongkahan batu di bawah rumah yang mengganjal aliran cairan kimia tadi. Sehingga dari celah itu masih memungkinkan rayap masuk.

Bahan kimia apa yang digunakan?

Bermacam-macam bahannya. Salah satu bahan aktifnya adalah termetrin. Sedang daya tahannya biasanya berkisar antara 5 - 8 tahun. Selanjutnya perlu diinjeksi lagi. Namun begitu, kita perlu mengadakan pemeriksaan terhadap rayap enam bulan sekali. Sehingga kalau ada serangan dapat terpantau sejak awal. Misalnya, tetesan air di rumah yang mengenai tiang kayu. Kalau tidak terpantau kayu akan menjamur. Bau jamur inilah yang mengundang datangnya rayap.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menahan serangan rayap?

Rata-rata Rp 65 ribu per meter persegi. Memang relatif mahal mengingat bahan dan peralatannya masih impor. Sebenarnya, bahan-bahan tersebut nomor dua. Yang paling penting justru disain rumah harus bagus. Artinya bagus rancang bangunnya, pencahayaan, ventilasi, tidak lembap, juga tidak ada retakan pada fondasi maupun lantai. Serta dimana lokasi bangunan itu berada.

Kabarnya Anda juga tengah giat mengembangkan teknologi antirayap yang baru?

Benar. Namanya teknologi umpan rayap. Konsepnya bukan lagi meracuni rayap, tapi justru memberi makan. Caranya rayap diberi umpan berupa kertas atau bahan lain yang sudah diperkaya dengan semacam enzim yang mengandung hexafumiuron. Fungsinya menghambat pembentukan kulit luar. Umpan ini diberikan terus menerus sampai semua rayap di koloni memakan umpan tadi. Akibatnya kulit baru yang terbentuk tidak bisa mengeras, malah retak. Akibatnya dia gagal membentuk kulit. Dalam 2 - 3 bulan, satu koloni itu akan mati.

Bila sampai musnah apakah justru tidak merusak ekosistem?

Memang benar. Makanya cara ini menjadi senjata akhir yang tidak akan digunakan semena-mena. Paling-paling digunakan untuk menjaga bangunan museum yang menyimpan benda-benda yang bernilai tinggi saja.

Oh ya, apakah semua tindakan di atas bisa dilakukan sendiri?

Pada prinsipnya siapa pun bisa melakukan. Hanya saja, semua bahan tadi,
kan, beracun. Tidak semua orang mengerti bagaimana cara menggunanakannya dengan aman. Idealnya dilakukan oleh profesional yang bersertifikat.

Adakah cara alamiah menghindari rayap?

Sebetulnya banyak pengetahuan konvensional dari orang tua. Namun, sekarang tak digunakan lagi karena dianggap tidak praktis. Misalnya dengan membuat lempengan aluminium dengan sudut tertentu. Lalu lempengan itu ditempatkan di bawah kusen. Dengan begitu, rayap tidak dapat lewat karena ciri rayap tidak suka jalan dengan tubuh terbalik.

Cara lainnya dengan menaburkan kapur gunung di areal tanah sebelum didirikan fondasi rumah. Dengan begitu tingkat keasaman tanah meningkat. Akibatnya, rayap tidak betah tinggal di
sana. Atau bisa juga dengan merendam kayu yang akan dipakai untuk membangun rumah selama 4 ­ 6 bulan. Tujuannya untuk melarutkan zat-zat di dalam kayu yang dapat menarik minat rayap.


Menurut Anda sejauh mana kepedulian masyarakat terhadap rayap?

Saya amati
lima tahun belakangan ada gejala positif dalam masyarakat. Mereka berusaha melindungi bangunan dari gangguan rayap. Hal itu terlihat dari bertambahnya jumlah perusahaan pengendalian hama. Bila semula jumlahnya hanya belasan, sekarang sudah ada ratusan. Karena produk bahan kimianya laku, maka jasa pengendalian rayap demikian juga.

Selain merugikan, apakah rayap juga bisa menguntungkan bagi kehidupan manusia?

Ada. Dari 2500 jenis rayap di dunia, 200 jenis di antaranya terdapat di Indonesia. 95 persen yang ada di Indonesia tadi justru sangat bersahabat dengan manusia. Mereka ini adalah jenis rayap yang makanannya kayu lapuk. Pohon-pohon yang sudah mati ini dimakan rayap. Lalu diubah menjadi zat hara tanah yang dapat menyuburkan. Bayangkan, kalau tidak ada rayap, tunggul kayu akan tetap menjadi tunggul. Begitu juga daun tidak bisa membusuk. Tanah menjadi miskin unsur hara karena tidak ada yang kembali ke tanah.

Karena rayap bisa menyuburkan lahan, maka rayap dapat dijadikan patokan kesuburan lahan. Artinya dari sebaran rayap di sebuah areal itu menggambarkan kesuburan lahan di tempat tersebut. Sedangkan lima persen rayap yang ada di Indonesia menjadi musuh manusia. Yaitu jenis Cryptotermes curvidnathas, Schedorhinotermes Javanica, Macrotermes gilvus, Cryptotermes cynocepha, dan Microtermes inspiparis. Jenis inilah yang banyak merusak bangunan dan isinya.

Apa hobi Anda di luar pekerjaan?

Hampir enggak ada. Hobi saya hanya membaca. Maka itu, uang saya habis untuk membeli buku.

Selain mengajar, apa kegiatan Anda?

Saya terlibat dalam dewan pakar Badan Koordinasi Pembentukan Propinsi Banten.

Di antara anak-anak, ada yang mengikuti jejak Anda?

Empat anak saya Citra Lestari (19), Adinda Wulandari (17), Nayunda Andhikasari (14), Syifa Hanza Humaira (5), kayaknya tidak ada yang tertarik rayap. Sedangkan istri saya Mimien Susiani, dulu mengajar di ITB. Namun, setelah anak mulai besar, dia memilih berhenti. @Sumber : Nova online

 

 

 
MENCEGAH MEMBASMI DAN MENGENDALIKAN RAYAP PADA BANGUNAN

Update, Rabu 6 April 2005. 11.30 bbwi

Rayap, tubuhnya memang kecil, tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menghancurkan sebuah bangunan. Belum banyak yang mengetahui cara pencegahan dan pengendaliannya. Karena semakin lama rayap dibiarkan dilingkungan anda, maka semakin besar kemungkinan mereka mengakibatkan kerusakan yang lebih jauh lagi.

Rayap merupakan jenis serangga yang tidak asing lagi ditelinga kita, yang selalu dikaitkan dengan “si perusak” keberadaannya sangat menyeramkan dan dengan gerakan komunitinya dapat meruntuhkan bagian rumah atau gedung.

Di Indonesia khususnya di DKI Jakarta kecenderungan serangan rayap semakin tinggi pada bangunan gedung, bukan hanya yang berfungsi sebagai hunian tetapi juga pada bangunan gedung bertingkat untuk fungsi usaha seperti perkantoran, apartemen, hotel dan pusat perbelanjaan. Bahkan beberapa gedung di DKI menunjukkan sudah mulai atau pernah digerogoti rayap tanah, seperti Gedung Bina Graha Jakarta, Museum Gajah, Purna Bakti Pertiwi, Gereja Immanuel, Masjid Manggala Wanabhakti serta beberapa bangunan gedung sekolah dan lebih dari 10 apartemen bertingkat di daerah Simprug, HR Rasuna Said, Semanggi, Menteng, dan Kelapa Gading.

Salah satu penyebab bergerak cepatnya penyebaran rayap di DKI adalah, karena hampir seluruh daerah di ibu kota ini, berada pada dataran rendah dengan suhu yang hangat dan kelembaban yang tinggi sehingga kondisi lingkungan ini sangat disukai oleh beberapa jenis rayap. Hal lain adalah pengaruh lahan-lahan yang ada berupa tanah merah gembur dan bekas pertanian, di mana 90 persen mengandung populasi rayap yang tinggi.

Tidak tanggung-tanggung menurut data kerugian ekonomis yang dialami Indonesia sampai pada tahun 2000 akibat rayap mencapai angka Rp 2,67 triliun, serta rata-rata persentase serangan rayap pada bangunan perumahan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Batam mencapai angka 70% lebih, angka tersebut akan semakin bertambah melihat kecenderungan terakhir ini, bahwa nilai kerugian akibat rayap setiap tahunnya meningkat sekitar lima persen seiring meningkatnya pembangunan gedung, terutama gedung bertingkat yang ada di Jakarta.

RAYAP DAPAT MENEMBUS TEMBOK

Rayap merupakan serangga berukuran kecil yang hidup berkelompok dengan sistem kasta yang berkembang sempurna. Serangga ini masuk dalam ordo isoptera (dari bahasa Yunani, iso = sama dan ptera = sayap). Dijelaskan, di dalam biosfera, pada dasarnya rayap merupakan bagian dari komponen lingkungan biotik yang memainkan peranan penting, seperti dapat membantu manusia menjaga keseimbangan alam dengan cara menghancurkan kayu untuk mengembalikannya sebagai unsur hara dalam tanah. Namun karena perubahan kondisi habitat akibat aktivitas manusia, sangat potensial mengubah status rayap menjadi serangga hama yang merugikan.

Seperti halnya pemanfaatan lahan dari areal perkebunan menjadi daerah pemukiman, telah mengakibatkan habitat alami rayap terganggu dan mencari sumber makanan baru berupa kayu atau material berselosa lain yang terdapat pada bangunan gedung, sebagai contoh, berbagai kasus serangan rayap pada bangunan gedung di DKI Jakarta banyak terjadi di daerah bekas perkebunan karet.

Serangga ini memang tidak mengenal kompromi dan melihat kepentingan manusia, dengan merusak mebel, buku-buku, kabel-kabel listrik, telepon, serta barang-barang yang disimpan. Untuk mencapai sasarannya, rayap tanah dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa sentimeter.

Serta apapun bentuk konstruksi bangunan gedung, seperti slab, basement atau crawl space, dapat ditembusnya lewat lubang terbuka atau celah sekecil satu per-enam empat inci. Baik celah pada slab di sekitar celah kayu atau pipa ledeng, serta celah antara pondasi dan tembok, maupun pada kuda-kuda atap. Atau rayap juga dapat membuat lubang di atas pondasi, terus ke atas hingga mencapai kuda-kuda dan di seluruh permukaan tembok.

Beberapa faktor pendorong serangan rayap pada bangunan, antara lain banyaknya kayu yang tertimbun di dalam tanah saat pembangunan, adanya celah pada pondasi tembok, sistem ventilasi kurang baik, kayu yang berhubungan langsung dengan tanah, dan kondisi bio-fisik tapak bangunannya itu sendiri yang menguntungkan kehidupan rayap.

Bagian komponen bangunan yang rawan terhadap serangan rayap adalah balkon, teras, sambungan talang air hujan, kerangka atap, ventilasi, hubungan antara dinding bata dan ampik kayu, serta hubungan antara dinding bata dan atap. Juga sudut dinding, hubungan sudut antara kusen dan dinding batu, pasangan dinding yang berhubungan dengan bak bunga, retak-retak pada dinding bata, serta hubungan antara dinding dengan pondasi.

HARUS DILAKUKAN PADA TAHAP KONSTRUKSI

Untuk menanggulangi dan mengurangi tingkat kerugian akibat serangan rayap pada gedung-gedung publik, maka berdasarkan Undang-Undang No 28/2002 tentang bangunan gedung Pasal 18 Ayat 1 dikatakan bahwa setiap bangunan harus tahan terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh gangguan alam, seperti gempa bumi, longsor dan serangga perusak.

Untuk itu harus didukung ketetapan pemerintah yang dijalankan secara ketat mengenai persyaratan teknis bangunan gedung khususnya ketentuan tentang pencegahan dan pengendalian terhadap serangan rayap, yang merupakan bagian dari Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung, dimana ketentuan tersebut bukan hanya mengatur proses IMB/ retribusi tapi juga harus diikuti dan ditindaklanjuti upaya pembinaan dan pemberdayaan masyarakat akan pentingnya keselamatan bangunan gedung.

Secara umum penanggulangan bahaya rayap harus dimulai pada tahap prakonstruksi untuk mencegah masuknya rayap ke dalam bangunan gedung. Tindakan penanggulangan bahaya rayap prakonstruksi dapat dilakukan dengan pendekatan rancang bangunan gedung tahan rayap, penggunaan kayu awet atau diawetkan melalui tindakan pengawetan kayu, dan pemberian perlakuan tanah sebagai penghalang kimia.

Hal lain adalah harus adanya peningkatan dalam penelitian yang dilakukan oleh badan litbang instansi terkait, mengenai klasifikasi kayu sebagai bahan bangunan yang tahan terhadap serangan rayap, baik jenis kayunya maupun setelah jenis kayu tersebut dilakukan treatment khusus untuk menanggulangi bahaya serangan rayap.

Jika bandingkan antara biaya anti rayap dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk pembelian kayu untuk kusen, pintu, jendela, dan konstruksi plafon/atap, maka biaya anti rayap sangat kecil. Namun demikian semua itu akan menjadi sangat murah jika service tersebut dilakukan sebelum mendapat serangan rayap. Mengapa ? Karena jika dilakukan sebelum muncul serangan rayap, hanya akan terbebani oleh biaya anti rayap saja.

Seandainya anti rayap dilakukan setelah mendapat serangan rayap, maka harus mengeluarkan biaya perbaikan/renovasi terhadap kerusakan yang telah terjadi.

Bebas dari serangan rayap berarti rutinitas aktivitas tidak akan terganggu. Mengapa tidak mengantisipasi serangan rayap sedini mungkin daripada dibuat pusing kemudian? Mencegah lebih murah dari pada membasmi.

RAYAP BEKERJA 24 SEHARI, 7 HARI SEMINGGU

Serangga merupakan biang keladi dari semua kerusakan kayu-kayu konstruksi bangunan yang bekerja 24 sehari, 7 hari seminggu, dan 54 minggu setahun, ada 3 (tiga) tujuan yang mendasari termite control service atau anti rayap yaitu mencegah, membasmi dan mengendalikan.

MENCEGAH. Suatu langkah yang sangat bijaksana, karena dapat mengantisipasi serangan rayap yang berasal dari luar bangunan. Seandainya suatu ketika muncul laron-laron yang beterbangan saat senja hari dan salah satu dari mereka berhasil memperoleh tempat untuk bertelur, maka rayap yang berasal dari telur-telur laron tidak akan mampu memakan kayu-kayu yang telah terlindungi termitisida/obat rayap dan tidak bisa menembus lapisan tanah yang telah dilindungi oleh termitisida.

MEMBASMI. Biasanya dilakukan oleh Anda yang belum mengetahui dan mengerti termite control service. Hal ini wajar karena mungkin Anda menganggap service ini tidak penting.

MENGENDALIKAN. Tujuan akhir yang benar-benar jangan sampai terjadi, karena hal ini dikarenakan pelaksanaan service yang sangat terlambat dan rayap sudah menyebar ke seluruh bagian bangunan. Rayap tidak mungkin terbasmi atau dapat dihilangkan secara total, karena jalur lalu lintas rayap benar-benar luas dan tersembunyi. Namun demikian service yang peroleh dapat memperpanjang usia bangunan Anda dan mengendalikan serangan rayap agar tidak menimbulkan kerusakan fatal.

Secara garis besar pelaksanaan termite control dilakukan dalam 2 (dua) macam metode, yaitu pertama Pre-construction termite control (metode pra konstruksi) Yaitu termite control yang dilakukan saat bangunan sedang dibangun, yang meliputi pekerjaan penyemprotan galian pondasi, penyemprotan seluruh permukaan lantai/tanah bangunan sebelum pengecoran, dan penyemprotan seluruh permukaan kayu-kayu sebelum dipasang pada konstruksi plafond dan atap. 

Yang kedua Pos construction termite control (metode pasca konstruksi)  Yaitu termite control yang yang dilakukan pada bangunan yang sudah berdiri dengan jalan menginjeksikan termitisida/obat pembasmi rayap ke dalam tanah dibawah lantai sepanjang pondasi bangunan yang jarak antar lubang injeksinya + 60 - 80 cm, dengan diameter lubang max. 13 mm. Sedangkan untuk kayu-kayu yang telah terpasang dilakukan penyemprotan langsung dengan termitisida. (dari berbagai sumber) info dari www.proyeksi.com  

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Standar Nasional Indonesia
SNI 03-5010.1-1999/
Revisi SNI 03-3528-1994

PENGAWETAN KAYU
UNTUK PERUMAHAN DAN GEDUNG

1.   Ruang lingkup

Standar ini meliputi definisi, acuan, lambang dan singkatan, istilah, syarat pengawetan, dan cara pengawetan, sebagai pedoman pengawetan kayu untuk perumahan dan gedung yang tidak berhubungan langsung dengan tanah.

2.   Acuan

Keputusan Menteri Pertanian No. 326/KPTS.270/4/94 tanggal 28 April 1994, perihal pencabutan pendaftaran dan izin pestisida yang berbahaya yang mengandung kaftofol atau senyawa arsen.

3.   Definisi

Pengawetan kayu untuk perumahan dan gedung adalah suatu proses memasukkan bahan pengawet ke dalam kayu dengan tujuan untuk meningkatkan daya tahan kayu terhadap serangan organisme perusak kayu sehingga dapat memperpanjang masa pakai kayu.

4.   Lambang

4.1.   CCB adalah tembaga-khrom-boron
4.2.   CCF adalah tembaga-khrom-flour

5.   Istilah

5.1.   Bahan pengawet adalah suatu bahan kimia yang bila dimaksukkan ke dalam kayu dapat meningkatkan ketahanan kayu dari serangan organisme perusak kayu yaitu serangga (rayap tanah, rayap kayu kering, bubuk kayu kering) dan jamur perusak kayu.

5.2.   Bubuk kayu kering adalah serangga yang menyerang kayu dalam keadaan kering, dicirikan oleh adanya lubang gerek dan kotoran berbentuk tepung halus.

5.3.   Gedung adalah bangunan untuk kantor, tempat pertemuan atau tempat pertunjukan.

5.4.   Gubal adalah bagian kayu antara kulit dan kayu teras, pada umumnya berwarna lebih terang dari kayu teras serta mudah terserang organisme perusak kayu:

5.5.   Jamur perusak adalah golongan jamur yang dapat merombak selulosa atau selulosa dan lignin, sehingga kayu menjadi lapuk.

5.6.   Keawetan kayu adalah daya tahan sesuatu jenis kayu terhadap serangan organisme perusak kayu.

5.7.   Kelas awet kayu adalah tingkatan keawetan alami dari kayu teras, berdasarkan lamanya pemakaian kayu terdiri dari:
5.7.1.   Kelas awet I (sangat awet).
5.7.2.   Kelas awet II (awet)
5.7.3.   Kelas awet III (kurang awet)
5.7.4.   Kelas awet IV (tidak awet)
5.7.5.   Kelas awet V (sangat tidak awet)

5.8.   Penetrasi adalah dalamnya penembusan bahan pengawet dalam kayu dinyatakan dalam mm.

5.9.   Perumahan adalah kumpulan beberapa buah rumah tempat tinggal.

5.10.   Rayap kayu kering adalah rayap yangmenyerang kayu dalam keadaan kering, dicirikan oleh adanya kotoran berbentuk butiran halus yang keluar dari lubang gerek.

5.11.   Rayap tanah adalah rayap yang merusak kayu baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan tanah. Pada kayu yang tidak berhubungan langsung dengan tanah diserang melalui terowongan yang berbentuk bulat pipih terbuat dari tanah, dan biasanya menempel pada permukaan kayu atau dinding.

5.12.   Retensi adalah jumlah bahan pengawet kering yang tinggal dalamkayu, dinyatakan dalam kg/m3.

5.13.   Serangga perusak kayu adalah rayap tanah, rayap kayu kering dan bubuk kayu kering yang merusak kayu untuk perumahan dan gedung.

5.14.   Teras adalah bagian kayu yang terletak antara hati (empulur) dan gubal, lebih tahan terhadap serangan organisme perusak kayu dibanding dengan gubal.

6.   Syarat pengawetan

6.1.   Jenis kayu

6.1.1.  Jenis kayu yang harus diawetkan adalah jenis-jenis kayu yang mempunyai kelas awet III, IV, dan V serta gubal dari kelas awet I dan II.

6.1.2.  Kayu-kayu yangdiawetkan tersebut dapat digunakan pada bangunan di bawah atau maupun di luar.

6.2.   Bahan pengawet

6.2.1.  Bahan pengawet yang digunakan adalah bahan pengawet yang berfungsi ganda, yaitu selain dapat mencegah serangan serangga (rayap tanah, rayap kayu kering dan bubuk kayu kering), juga dapat mencegah serangan jamur perusak kayu, dari golongan CCB dan CCF.

6.2.2.  Jenis, komposisi bahan aktif, formulasi dan bentuk bahan pengawet dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis, komposisi bahan aktif, formulasi dan bentuk bahan pengawet

No.

Jenis bahan pengawet

Komposisi

Formulasi bahan aktif garam

Bentuk

Bahan aktif

%

1

CCB1

CuSO4.5H2O
K2Cr2O7
H3BO3

33
37
25

95%

Bubuk

2

CCB2

CuSO4
K2Cr2O7
H3BO3

34
38
25

97%

Bubuk

3

CCB3

CuSO4
Na2Cr2O7
H3BO3

28,6
43,9
27,5

100%

Bubuk

4

CCB4

CuSO4.5H2O
Na2Cr2O7.2H2O
H3BO3

32,4
36,0
21,6

90%

Pasta

5

CCF

CuSiF6.4H2O
(NH4)2Cr2O7

36,3
63,7

100%

Bubuk

6.2.3.  Persyaratan retensi dan penetrasi bahan pengawet dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Persyaratan retensi dan penetrasi bahan pengawet

Jenis

Bentuk/Formulasi

Retensi (kg/m3)

Penetrasi (mm)

Dibawah atap

Di luar atap

CCB1

- Bahan aktif garam
- Formulasi

8,0
8,4

11,0
11,6

5
5

CCB2

- Bahan aktif garam
- Formulasi

8,0
8,2

11,0
11,3

5
5

CCB3

- Bahan aktif garam
- Formulasi

8,0
8,0

11,0
11,0

5
5

CCB4

- Bahan aktif garam
- Formulasi

8,0
8,0

11,0
12,2

5
5

CCF

- Bahan aktif garam
- Formulasi

6,0
6,0

8,6
8,6

5
5

6.2.4.  Cara pengujian retensi dan penetrasi sesuai dengan SNI-3233-1992 tentang tata cara pengawetan kayu dengan cara pemulasan, pencelupan dan rendaman.

7.   Cara Pengawetan

7.1.   Cara pengawetan yang digunakan dalam standar ini terdiri dari:

7.1.1.  Pengawetan secara vakum-tekan
7.1.2.  Pengawetan secara rendaman dingin
7.1.3.
  Pengawetan secara rendaman panas dingin

7.2.   Tata cara pengawetan diatur sesuai dengan SNI-3233-1992 tentang tata cara pengawetan kayu dengan cara pemulasan, pencelupan dan rendaman.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

MENARA SI RAYAP BUTA

Mungkinkah pekerja yang buta mendirikan bangunan setinggi Gedung Empire State? Prestasi sedemikian adalah tidak mungkin bagi manusia. Tetapi, rayap yang buta, sepanjang hidupnya, sanggup membangun sarang setinggi Gedung Empire State, pada perbandingan yang setara dengan ukuran tubuh mereka.

Salah satu ciri penting rayap adalah mereka membuat sarang yang begitu kuat sehingga manusia pun hanya dapat menghancurkannya dengan susah-payah. Rayap-rayap membangun berbagai jenis sarang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Ada yang membangun sarang sebagai perlindungan terhadap panas yang membakar, ada pula yang membangun sarangnya untuk berteduh dari hujan. Sarang-sarang ini dapat dibangun di bawah maupun di atas tanah atau bahkan di dalam pohon.

Bila kita melihat ke dalam sarang rayap, kita dapat melihat penampilannya yang seperti spons. Sarang itu terdiri dari banyak lubang yang lebarnya sekitar 2,5 cm (1 inci) atau kurang dari itu. Lubang-lubang ini terhubungkan satu sama lain oleh lorong yang hanya dapat dilewati oleh rayap. Bahan mentah yang digunakan rayap saat membuat bangunan yang mengagumkan ini hanya terdiri dari tanah, air liurnya, dan kotoran atau zat buangan tubuh. Dengan menggunakan bahan-bahan sederhana tersebut, sebagian rayap membuat sarang yang sangat kuat sehingga hanya dapat dihancurkan dengan menggunakan dinamit, dan sarang ini juga memiliki sistem yang begitu teperinci seperti labirin, saluran peredaran udara, dan lorong.

Segi utama paling menakjubkan dari rayap yang dapat membangun sarang berupa menara yang hebat ini, sebagaimana telah disebutkan di atas, adalah karena rayap sama sekali buta. Ini hal yang paling penting. Rayap tidak dapat melihat terowongan yang dibuatnya, tidak juga bahan dan tanah yang digunakannya, maupun lubang-lubang yang dibangunnya.

Bila hasil karya rayap dan manusia dibandingkan, keajaiban pada apa yang dilakukan rayap bahkan dapat lebih jelas dilihat. Maka, agar kita bisa membuat penilaian yang lebih baik atas “pencakar langit” yang dibangun rayap, Gedung Empire State di New York, Amerika, bisa menjadi pembanding yang cocok. Gedung tersebut tingginya 443 meter (1453 kaki). Rayap adalah serangga berukuran 1-2 cm (0,4-0,8 inci). Walaupun tubuhnya amat kecil, rayap membangun sarang raksasa yang menjulang hingga 7 meter (23 kaki) tingginya. Jika rayap sama tingginya dengan manusia, sarang spektakuler buatan mereka akan berukuran empat kali lebih tinggi daripada Gedung Empire State. Rayap telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, yang bahkan tidak dapat dicapai oleh manusia, selama berjuta-juta tahun sejak mereka diciptakan.

Dia Yang telah menciptakan rayap dengan semua karakteristiknya adalah Allah. Dengan mengaruniai rayap kemampuan untuk membuat bangunan yang hebat, Dia, Penguasa segala sesuatu, memperkenalkan kepada kita kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya yang tidak terbatas. Seperti yang diungkapkan-Nya dalam Al Qur‘an:

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az Zumar, 39: 62)

Info dari harunyahya

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++