|
Bisa
diceritakan seperti apa, sih, ciri-ciri binatang rayap? Bila
sampai musnah apakah justru tidak merusak ekosistem? |
|
|
MENCEGAH MEMBASMI DAN MENGENDALIKAN RAYAP PADA BANGUNAN
Update, Rabu 6 April 2005. 11.30 bbwi
Rayap, tubuhnya memang kecil, tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat untuk
menghancurkan sebuah bangunan. Belum banyak yang mengetahui cara pencegahan dan
pengendaliannya. Karena semakin lama rayap dibiarkan dilingkungan anda, maka
semakin besar kemungkinan mereka mengakibatkan kerusakan yang lebih jauh lagi.
Rayap merupakan jenis serangga yang tidak asing lagi ditelinga kita, yang
selalu dikaitkan dengan “si perusak” keberadaannya sangat
menyeramkan dan dengan gerakan komunitinya dapat meruntuhkan bagian rumah atau
gedung.
Di Indonesia khususnya di DKI Jakarta kecenderungan serangan rayap semakin
tinggi pada bangunan gedung, bukan hanya yang berfungsi sebagai hunian tetapi
juga pada bangunan gedung bertingkat untuk fungsi usaha seperti perkantoran,
apartemen, hotel dan pusat perbelanjaan. Bahkan beberapa gedung di DKI
menunjukkan sudah mulai atau pernah digerogoti rayap tanah, seperti Gedung Bina
Graha Jakarta, Museum Gajah, Purna Bakti Pertiwi, Gereja Immanuel, Masjid
Manggala Wanabhakti serta beberapa bangunan gedung sekolah dan lebih dari 10
apartemen bertingkat di daerah Simprug, HR Rasuna Said, Semanggi, Menteng, dan
Kelapa Gading.
Salah satu penyebab bergerak cepatnya penyebaran rayap di DKI adalah,
karena hampir seluruh daerah di ibu kota ini, berada pada dataran rendah dengan
suhu yang hangat dan kelembaban yang tinggi sehingga kondisi lingkungan ini
sangat disukai oleh beberapa jenis rayap. Hal lain adalah pengaruh lahan-lahan
yang ada berupa tanah merah gembur dan bekas pertanian, di mana 90 persen
mengandung populasi rayap yang tinggi.
Tidak tanggung-tanggung menurut data kerugian ekonomis yang dialami
Indonesia sampai pada tahun 2000 akibat rayap mencapai angka Rp 2,67 triliun,
serta rata-rata persentase serangan rayap pada bangunan perumahan di kota-kota
besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Batam mencapai angka 70% lebih,
angka tersebut akan semakin bertambah melihat kecenderungan terakhir ini, bahwa
nilai kerugian akibat rayap setiap tahunnya meningkat sekitar lima persen
seiring meningkatnya pembangunan gedung, terutama gedung bertingkat yang ada di
Jakarta.
RAYAP DAPAT MENEMBUS TEMBOK
Rayap merupakan serangga berukuran kecil yang hidup berkelompok dengan
sistem kasta yang berkembang sempurna. Serangga ini masuk dalam ordo isoptera
(dari bahasa Yunani, iso = sama dan ptera = sayap). Dijelaskan, di dalam
biosfera, pada dasarnya rayap merupakan bagian dari komponen lingkungan biotik
yang memainkan peranan penting, seperti dapat membantu manusia menjaga
keseimbangan alam dengan cara menghancurkan kayu untuk mengembalikannya sebagai
unsur hara dalam tanah. Namun karena perubahan kondisi habitat akibat aktivitas
manusia, sangat potensial mengubah status rayap menjadi serangga hama yang
merugikan.
Seperti halnya pemanfaatan lahan dari areal perkebunan menjadi daerah
pemukiman, telah mengakibatkan habitat alami rayap terganggu dan mencari sumber
makanan baru berupa kayu atau material berselosa lain yang terdapat pada
bangunan gedung, sebagai contoh, berbagai kasus serangan rayap pada bangunan
gedung di DKI Jakarta banyak terjadi di daerah bekas perkebunan karet.
Serangga ini memang tidak mengenal kompromi dan melihat kepentingan
manusia, dengan merusak mebel, buku-buku, kabel-kabel listrik, telepon, serta
barang-barang yang disimpan. Untuk mencapai sasarannya, rayap tanah dapat
menembus tembok yang tebalnya beberapa sentimeter.
Serta apapun bentuk konstruksi bangunan gedung, seperti slab, basement atau
crawl space, dapat ditembusnya lewat lubang terbuka atau celah sekecil satu
per-enam empat inci. Baik celah pada slab di sekitar celah kayu atau pipa
ledeng, serta celah antara pondasi dan tembok, maupun pada kuda-kuda atap. Atau
rayap juga dapat membuat lubang di atas pondasi, terus ke atas hingga mencapai
kuda-kuda dan di seluruh permukaan tembok.
Beberapa faktor pendorong serangan rayap pada bangunan, antara lain
banyaknya kayu yang tertimbun di dalam tanah saat pembangunan, adanya celah
pada pondasi tembok, sistem ventilasi kurang baik, kayu yang berhubungan
langsung dengan tanah, dan kondisi bio-fisik tapak bangunannya itu sendiri yang
menguntungkan kehidupan rayap.
Bagian komponen bangunan yang rawan terhadap serangan rayap adalah balkon,
teras, sambungan talang air hujan, kerangka atap, ventilasi, hubungan antara
dinding bata dan ampik kayu, serta hubungan antara dinding bata dan atap. Juga
sudut dinding, hubungan sudut antara kusen dan dinding batu, pasangan dinding
yang berhubungan dengan bak bunga, retak-retak pada dinding bata, serta
hubungan antara dinding dengan pondasi.
HARUS DILAKUKAN PADA TAHAP KONSTRUKSI
Untuk menanggulangi dan mengurangi tingkat kerugian akibat serangan rayap
pada gedung-gedung publik, maka berdasarkan Undang-Undang No 28/2002 tentang
bangunan gedung Pasal 18 Ayat 1 dikatakan bahwa setiap bangunan harus tahan
terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh gangguan alam, seperti gempa bumi,
longsor dan serangga perusak.
Untuk itu harus didukung ketetapan pemerintah yang dijalankan secara ketat
mengenai persyaratan teknis bangunan gedung khususnya ketentuan tentang
pencegahan dan pengendalian terhadap serangan rayap, yang merupakan bagian dari
Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung, dimana ketentuan tersebut bukan hanya
mengatur proses IMB/ retribusi tapi juga harus diikuti dan ditindaklanjuti
upaya pembinaan dan pemberdayaan masyarakat akan pentingnya keselamatan
bangunan gedung.
Secara umum penanggulangan bahaya rayap harus dimulai pada tahap
prakonstruksi untuk mencegah masuknya rayap ke dalam bangunan gedung. Tindakan
penanggulangan bahaya rayap prakonstruksi dapat dilakukan dengan pendekatan
rancang bangunan gedung tahan rayap, penggunaan kayu awet atau diawetkan
melalui tindakan pengawetan kayu, dan pemberian perlakuan tanah sebagai
penghalang kimia.
Hal lain adalah harus adanya peningkatan dalam penelitian yang dilakukan
oleh badan litbang instansi terkait, mengenai klasifikasi kayu sebagai bahan
bangunan yang tahan terhadap serangan rayap, baik jenis kayunya maupun setelah
jenis kayu tersebut dilakukan treatment khusus untuk menanggulangi bahaya
serangan rayap.
Jika bandingkan antara biaya anti rayap dengan jumlah uang yang dikeluarkan
untuk pembelian kayu untuk kusen, pintu, jendela, dan konstruksi plafon/atap,
maka biaya anti rayap sangat kecil. Namun demikian semua itu akan menjadi
sangat murah jika service tersebut dilakukan sebelum mendapat serangan rayap.
Mengapa ? Karena jika dilakukan sebelum muncul serangan rayap, hanya akan
terbebani oleh biaya anti rayap saja.
Seandainya anti rayap dilakukan setelah mendapat serangan rayap, maka harus
mengeluarkan biaya perbaikan/renovasi terhadap kerusakan yang telah terjadi.
Bebas dari serangan rayap berarti rutinitas aktivitas tidak akan terganggu.
Mengapa tidak mengantisipasi serangan rayap sedini mungkin daripada dibuat
pusing kemudian? Mencegah lebih murah dari pada membasmi.
RAYAP BEKERJA 24 SEHARI, 7 HARI SEMINGGU
Serangga merupakan biang keladi dari semua kerusakan kayu-kayu konstruksi
bangunan yang bekerja 24 sehari, 7 hari seminggu, dan 54 minggu setahun, ada 3
(tiga) tujuan yang mendasari termite control service atau anti rayap yaitu
mencegah, membasmi dan mengendalikan.
MENCEGAH. Suatu langkah yang sangat bijaksana, karena dapat mengantisipasi
serangan rayap yang berasal dari luar bangunan. Seandainya suatu ketika muncul
laron-laron yang beterbangan saat senja hari dan salah satu dari mereka
berhasil memperoleh tempat untuk bertelur, maka rayap yang berasal dari
telur-telur laron tidak akan mampu memakan kayu-kayu yang telah terlindungi termitisida/obat
rayap dan tidak bisa menembus lapisan tanah yang telah dilindungi oleh
termitisida.
MEMBASMI. Biasanya dilakukan oleh Anda yang belum mengetahui dan mengerti
termite control service. Hal ini wajar karena mungkin Anda menganggap service
ini tidak penting.
MENGENDALIKAN. Tujuan akhir yang benar-benar jangan sampai terjadi, karena
hal ini dikarenakan pelaksanaan service yang sangat terlambat dan rayap sudah menyebar
ke seluruh bagian bangunan. Rayap tidak mungkin terbasmi atau dapat dihilangkan
secara total, karena jalur lalu lintas rayap benar-benar luas dan tersembunyi.
Namun demikian service yang peroleh dapat memperpanjang usia bangunan Anda dan
mengendalikan serangan rayap agar tidak menimbulkan kerusakan fatal.
Secara garis besar pelaksanaan termite control dilakukan dalam 2 (dua)
macam metode, yaitu pertama Pre-construction termite control (metode pra
konstruksi) Yaitu termite control yang dilakukan saat bangunan sedang dibangun,
yang meliputi pekerjaan penyemprotan galian pondasi, penyemprotan seluruh
permukaan lantai/tanah bangunan sebelum pengecoran, dan penyemprotan seluruh
permukaan kayu-kayu sebelum dipasang pada konstruksi plafond dan atap.
Yang kedua Pos construction termite control (metode pasca
konstruksi) Yaitu termite control yang yang dilakukan pada bangunan yang
sudah berdiri dengan jalan menginjeksikan termitisida/obat pembasmi rayap ke
dalam tanah dibawah lantai sepanjang pondasi bangunan yang jarak antar lubang
injeksinya + 60 - 80 cm, dengan diameter lubang max. 13 mm. Sedangkan
untuk kayu-kayu yang telah terpasang dilakukan penyemprotan langsung dengan
termitisida. (dari berbagai sumber) info dari www.proyeksi.com
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Standar Nasional
SNI 03-5010.1-1999/
Revisi SNI 03-3528-1994
PENGAWETAN
KAYU
UNTUK PERUMAHAN DAN GEDUNG
1. Ruang lingkup
Standar ini meliputi definisi, acuan, lambang dan singkatan, istilah, syarat
pengawetan, dan cara pengawetan, sebagai pedoman
pengawetan kayu untuk perumahan dan gedung yang tidak berhubungan langsung
dengan tanah.
2. Acuan
Keputusan Menteri Pertanian No. 326/KPTS.270/4/94 tanggal
3. Definisi
Pengawetan kayu untuk perumahan dan gedung adalah suatu proses memasukkan
bahan pengawet ke dalam kayu dengan tujuan untuk meningkatkan daya tahan kayu
terhadap serangan organisme perusak kayu sehingga dapat memperpanjang masa
pakai kayu.
4. Lambang
4.1. CCB adalah tembaga-khrom-boron
4.2. CCF adalah tembaga-khrom-flour
5. Istilah
5.1. Bahan pengawet adalah suatu bahan kimia yang bila
dimaksukkan ke dalam kayu dapat meningkatkan ketahanan kayu dari serangan
organisme perusak kayu yaitu serangga (rayap tanah, rayap kayu kering, bubuk
kayu kering) dan jamur perusak kayu.
5.2. Bubuk kayu kering adalah serangga yang menyerang kayu dalam
keadaan kering, dicirikan oleh adanya lubang gerek dan kotoran berbentuk tepung
halus.
5.3. Gedung adalah bangunan untuk kantor,
tempat pertemuan atau tempat pertunjukan.
5.4. Gubal adalah bagian kayu antara kulit dan kayu teras, pada
umumnya berwarna lebih terang dari kayu teras serta mudah terserang organisme
perusak kayu:
5.5. Jamur perusak adalah golongan jamur yang dapat merombak
selulosa atau selulosa dan lignin, sehingga kayu menjadi lapuk.
5.6. Keawetan kayu adalah daya tahan sesuatu jenis kayu terhadap
serangan organisme perusak kayu.
5.7. Kelas awet kayu adalah tingkatan keawetan alami dari kayu
teras, berdasarkan lamanya pemakaian kayu terdiri dari:
5.7.1. Kelas awet I (sangat awet).
5.7.2. Kelas awet II (awet)
5.7.3. Kelas awet III (kurang awet)
5.7.4. Kelas awet IV (tidak awet)
5.7.5. Kelas awet V (sangat tidak awet)
5.8. Penetrasi adalah dalamnya penembusan bahan pengawet dalam
kayu dinyatakan dalam mm.
5.9. Perumahan adalah kumpulan beberapa buah rumah tempat
tinggal.
5.10. Rayap kayu kering adalah rayap yangmenyerang kayu dalam
keadaan kering, dicirikan oleh adanya kotoran berbentuk butiran halus yang
keluar dari lubang gerek.
5.11. Rayap tanah adalah rayap yang merusak kayu baik yang
berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan tanah. Pada
kayu yang tidak berhubungan langsung dengan tanah diserang melalui terowongan
yang berbentuk bulat pipih terbuat dari tanah, dan biasanya menempel pada
permukaan kayu atau dinding.
5.12. Retensi adalah jumlah bahan pengawet kering yang tinggal
dalamkayu, dinyatakan dalam kg/m3.
5.13. Serangga perusak kayu adalah rayap tanah, rayap kayu
kering dan bubuk kayu kering yang merusak kayu untuk perumahan dan gedung.
5.14. Teras adalah bagian kayu yang terletak antara hati
(empulur) dan gubal, lebih tahan terhadap serangan organisme perusak kayu
dibanding dengan gubal.
6. Syarat pengawetan
6.1. Jenis kayu
6.1.1. Jenis kayu yang harus diawetkan adalah
jenis-jenis kayu yang mempunyai kelas awet III, IV, dan V serta gubal dari
kelas awet I dan II.
6.1.2. Kayu-kayu yangdiawetkan tersebut dapat
digunakan pada bangunan di bawah atau maupun di luar.
6.2. Bahan pengawet
6.2.1. Bahan pengawet yang digunakan adalah
bahan pengawet yang berfungsi ganda, yaitu selain dapat mencegah serangan
serangga (rayap tanah, rayap kayu kering dan bubuk kayu kering), juga dapat
mencegah serangan jamur perusak kayu, dari golongan CCB dan CCF.
6.2.2. Jenis, komposisi bahan aktif,
formulasi dan bentuk bahan pengawet dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis, komposisi bahan aktif, formulasi
dan bentuk bahan pengawet
|
No. |
Jenis bahan pengawet |
Komposisi |
Formulasi bahan aktif garam |
Bentuk |
|
|
Bahan aktif |
% |
||||
|
1 |
CCB1 |
CuSO4.5H2O |
33 |
95% |
Bubuk |
|
2 |
CCB2 |
CuSO4 |
34 |
97% |
Bubuk |
|
3 |
CCB3 |
CuSO4 |
28,6 |
100% |
Bubuk |
|
4 |
CCB4 |
CuSO4.5H2O |
32,4 |
90% |
Pasta |
|
5 |
CCF |
CuSiF6.4H2O |
36,3 |
100% |
Bubuk |
6.2.3. Persyaratan retensi dan penetrasi
bahan pengawet dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Persyaratan retensi dan penetrasi bahan
pengawet
|
Jenis |
Bentuk/Formulasi |
Retensi (kg/m3) |
Penetrasi (mm) |
|
|
Dibawah atap |
Di luar atap |
|||
|
CCB1 |
- Bahan aktif garam |
8,0 |
11,0 |
5 |
|
CCB2 |
- Bahan aktif garam |
8,0 |
11,0 |
5 |
|
CCB3 |
- Bahan aktif garam |
8,0 |
11,0 |
5 |
|
CCB4 |
- Bahan aktif garam |
8,0 |
11,0 |
5 |
|
CCF |
- Bahan aktif garam |
6,0 |
8,6 |
5 |
6.2.4. Cara pengujian retensi dan penetrasi
sesuai dengan SNI-3233-1992 tentang tata cara pengawetan kayu dengan cara
pemulasan, pencelupan dan rendaman.
7. Cara Pengawetan
7.1. Cara pengawetan yang digunakan dalam standar ini terdiri
dari:
7.1.1. Pengawetan secara vakum-tekan
7.1.2. Pengawetan secara rendaman dingin
7.1.3. Pengawetan secara rendaman panas dingin
7.2. Tata cara pengawetan diatur sesuai dengan SNI-3233-1992
tentang tata cara pengawetan kayu dengan cara
pemulasan, pencelupan dan rendaman.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Mungkinkah pekerja yang buta mendirikan bangunan setinggi
Salah satu ciri penting rayap adalah mereka
membuat sarang yang begitu kuat sehingga manusia pun hanya dapat
menghancurkannya dengan susah-payah. Rayap-rayap
membangun berbagai jenis sarang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Bila kita melihat ke dalam sarang rayap, kita
dapat melihat penampilannya yang seperti spons.
Sarang itu terdiri dari banyak lubang yang lebarnya sekitar 2,5
cm (1 inci) atau kurang dari itu. Lubang-lubang ini terhubungkan satu sama lain oleh lorong yang hanya dapat dilewati oleh rayap. Bahan mentah yang digunakan rayap saat membuat bangunan yang
mengagumkan ini hanya terdiri dari tanah, air liurnya, dan kotoran atau zat
buangan tubuh. Dengan menggunakan bahan-bahan
sederhana tersebut, sebagian rayap membuat sarang yang sangat kuat sehingga
hanya dapat dihancurkan dengan menggunakan dinamit, dan sarang ini juga
memiliki sistem yang begitu teperinci seperti labirin, saluran peredaran udara,
dan lorong.
Segi utama paling menakjubkan dari rayap yang dapat membangun
sarang berupa menara yang hebat ini, sebagaimana telah disebutkan di atas,
adalah karena rayap sama sekali buta. Ini hal yang paling penting. Rayap tidak
dapat melihat terowongan yang dibuatnya, tidak juga bahan dan tanah yang
digunakannya, maupun lubang-lubang yang dibangunnya.
Bila hasil karya rayap dan manusia dibandingkan, keajaiban pada apa yang dilakukan rayap bahkan dapat lebih jelas dilihat.
Maka, agar kita bisa membuat penilaian yang lebih baik atas “pencakar langit”
yang dibangun rayap, Gedung Empire State di New York, Amerika, bisa menjadi
pembanding yang cocok. Gedung tersebut tingginya 443 meter
(1453 kaki). Rayap adalah serangga berukuran 1-2 cm (0,4-0,8
inci). Walaupun tubuhnya amat kecil, rayap membangun sarang raksasa yang
menjulang hingga 7 meter (23 kaki) tingginya. Jika
rayap sama tingginya dengan manusia, sarang
spektakuler buatan mereka akan berukuran empat kali lebih tinggi daripada
Dia Yang telah menciptakan rayap dengan semua
karakteristiknya adalah Allah. Dengan
mengaruniai rayap kemampuan untuk membuat bangunan yang hebat, Dia, Penguasa
segala sesuatu, memperkenalkan kepada kita kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya
yang tidak terbatas. Seperti yang diungkapkan-Nya dalam Al Qur‘an:
Allah
menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az
Zumar, 39: 62)
Info dari harunyahya
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++